Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang merupakan satu-satunya lembaga pengkajian roket, satelit, dan penerbangan di Indonesia, ternyata masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain, seperti Korea dan India. Padahal, rencananya pada tahun 2015 mendatang LAPAN akan meluncurkan satelit yang baru yakni 8 A2. Namun karena masih terkendala dengan beberapa hal, maka dengan sangat terpaksa LAPAN pun akan meminjam roket milik India untuk meluncurkan satelit tersebut.

Kendala yang dihadapi LAPAN tersebut ternyata bukan karena minimnya uang yang dimiliki oleh pemerintah. Menurut Dr. Bagus Hayatul Jihad, perwakilan dari Pusat Teknologi Roket, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara, LAPAN, kendala yang dihadapi LAPAN sebenarnya hanya ada dua, yakni mengenai penelitian strategisnya dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat tabung roket. “Uang bukanlah kendala bagi kami. Karena kami percaya pemerintah itu banyak uangnya. Hanya saja ini terkait dengan persedian bahan-bahan untuk pembuatan tabung roket. Uangnya ada, tapi barang yang dibutuhkan itu tidak ada,” ujarnya dalam acara kuliah umum yang diselenggarakan oleh Teknik Mesin dan Teknik Eletro, Fakultas Teknik UMY, pada Senin (12/5) di Ruang Stadium General Fakultas Teknik.

Bagus mengatakan, bahan yang dibutuhkan untuk membuat tabung roket itu adalah bahan yang ulet, elastis, dan kuat serta tahan digunakan pada tataran suhu tinggi. Sementara jika hanya menggunakan bahan biasa seperti besi atau logam, hal itu juga tidak mungkin bisa digunakan. “Bahkan mungkin untuk bahan yang berasal dari keramik. Mungkin keramik adalah bahan yang kuat, tapi untuk keelastisannya masih perlu dipertanyakan. Ini juga yang kemudian membuat kami sulit untuk membuat roket yang bisa diterbangkan untuk mengorbitkan satelit. Karena hingga saat ini kami masih mendesain roket pada kondisi kritis, yang punya bobot paling enteng dan bisa melesat lebih cepat,” paparnya.

Kendala lain yang ditemukan oleh LAPAN yakni dalam mengembangkan roket. Menurut Bagus, penelitian tentang roket adalah penelitian strategis di seluruh negara. Sehingga, seluruh negara telah memiliki teknologi roket kemudian mengambil kebijakkan untuk memproteksi penelitian-penelitian yang berkaitan dengan roket. “Jadi sulit bagi kami untuk bisa mengembangkan roket lebih jauh lagi. Kecuali kalau kita punya uang banyak dan bisa melakukan transfer knowledge. Tapi sampai saat ini kami masih melakukannya sendiri dengan mengadakan penelitian sendiri. Padahal hal ini tentu membutuhkan waktu yang cukup lama, karena kita tahu sendiri bahwa teknologi industri yang berkembang di Indonesia ini adalah teknologi industri konsumsi. Karena itu, sekarang pemerintah sudah melarang untuk mengekspor bahan-bahan mentah seperti besi, minyak, rotan, dan sebagainya. Sebab kalau bahan-bahan mentahnya yang diekspor, kita tidak bisa memproduksi apapun,” tuturnya.
Hal ini lah yang memacu LAPAN untuk mulai mengembangkan roket-roket yang sebelumnya sudah dibuat. Meskipun masih sebatas roket yang digunakan untuk penelitian dan pertahanan, seperti roket Sondak RX-550 dan Roket Pertahanan RHAN 122. ​sakinah

Sumber : http://www.umy.ac.id/perkembangan-roket-indonesia-masih-terkendala.html