Penggunaan Energi alternatif atau Energi Baru dan Terbarukan (EBT) kerap kali dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Bahkan Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan energi baru terbarukan yang masih minim. Dari total 100 persen energi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, penggunaan EBT hanya sebesar 2 persen.

Hal itulah yang dipaparkan oleh Harris Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan dari Kementrian ESDM, dalam Seminar Nasional yang bertemakan Energi Baru dan Terbarukan atau dikenal dengan EBT dalam rangkaian Electro Fair 2018, pada Selasa (3/3). Seminar yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro (KMTE) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini juga diikuti oleh siswa dan mahasiswa se-DIY dan Jateng.

Dalam pemaparannya, Harris menjelaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan energi fosil sangat tinggi, sedangkan untuk energi alternatif masih sangatlah rendah. Total penggunaan tenaga fosil yang berupa Batubara, Gas dan BBM mencapai 98 persen, sedangkan penggunaan EBT hanya sebesar 2 persen. Persentase yang sangat kecil itu berbanding terbalik dengan potensi sumberdaya EBT yang sangat melimpah.

“Indonesia harus berubah dan perubahan itu harus dimulai pada generasi muda. Karena sudah terlalu lama tergantung pada bahan bakar tambang, dampak negatif yang diberikan pun sangat besar. Seperti kerusakan alam yang terjadi pada pertambangan batubara, resiko kapal tanker tumpah dan merusak ekosistem laut, serta tingginya gas emisi yang dihasilkan dari hasil pembakaran kendaraan bermotor menyebabkan efek rumah kaca. Dibandingkan jika kita menggunakan EBT, kerusakan lingkungan bisa diminimalisir dan memiliki banyak manfaat,” ujar Harris.

Harris kembali menambahkan bahwa Indonesia sedang berupaya untuk terus mengembangkan pembangkit listrik alternatif berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 626 unit, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 69 unit dan Pembangkit Listrik Minihidro (PLTM) 2 unit. Pembangunan ini selaras dengan harapan Indonesia kedepannya agar dapat memanfaatkan secara maksimal EBT yang ada.

“Selain pemerintah, pemahaman yang diberikan kepada siswa dan mahasiswa harus dilakukan oleh para pengajar di lembaga pendidikan. Seminar yang dihadiri oleh siswa Sekolah Menegah Atas dan mahasiswa dari perguruan tinggi yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya diharapkan mampu melahirkan pemikiran – pemikiran segar mengenai Energi Baru dan Terbarukan,” imbuhnya.

Sementara itu, Anjas selaku Panitia mengatakan, Electro Fair 2018 kali ini mengusung tema Make Young Generation To Be Innovative, Creative and Have Characters. “Kegiatan Electro Fair ini bertujuan untuk mengubah pikiran generasi muda yang sedang menempuh pendidikan. Mulai dari tingkat Sekolah Menegah Pertama sampai Tingkat Perguruan Tinggi untuk memanfaatkan Energi Baru dan Terbarukan semaksimal mungkin,” tutupnya. (ak)

 

Sumber : http://www.umy.ac.id/penggunaan-energi-baru-terbarukan-masih-minim.html

Facebook Comments