[vc_column_text width=”1/1″ el_position=”first last”]

KKN Internasional selama sebulan di Singapura telah selesai desember 2013 kemarin. KKN Internasional ini di selenggarakan di Singapura, tepatnya di Singapore Polytechnic, KKN Internasional ini terlaksana berkat kerja sama Singapore Polytechnic dengan IRO UMY dan LP3M UMY. KKN ini di dominasi oleh program studi eksakta dan dari program studi Teknik Elektro 3 orang yang terpilih adalah Muhammad Izzuddin Al-Muqorrobin 2011, Syauqi Al Ghifari 2011, dan Fikri Ali Nawawi 2010. Sebelumnya mereka telah di seleksi dari puluhan calon peserta se-UMY, yang final resultnya dipilih 16 orang kemudian diberi pembekalan 2 minggu sebelum keberangkatan untuk persiapan 4 minggu tinggal di singapura. UMY memberangkatkan 16 orang bersama 9 orang dari UPN yang juga mengadakan seleksi tersendiri untuk sebuah program Learning Express. Di Singapore Polytechnic mereka membuat Design Thinking, mengharuskan mereka menyelesaikan sebuah permasalahan suatu komunitas, orang-orang, atau lingkungan sesuai apa yang mereka butuhkan. Design Thinking yang mereka kerjakan ada 4 tahap dalam pengerjaannya, pertama empathy, sense and sensibility, ideation, dan prototype.

Singapore-Polytechnic

Dalam design thinking 25 mahasiswa UMY dan UPN di kelompokkan menjadi beberapa group dan kemudian masing-masing group diberi project oleh dosen SP (Singapore Polytechnic), ada dua isu utama yang akan diselesaikan yaitu Racial Harmony dan Clean Environment. Bentuk design thinking dan pembelajaran mereka akan dilanjutkan pada tulisan KKN Internasional 2013 – Singapura Bagian 2, beserta interview pengalaman Izuddin, Syauqi, dan Fikri selama di singapura.

kkn-design-thinking

Banyak manfaat pembelajaran yang dapat dijadikan contoh untuk Indonesia dari orang-orang singapura, mereka benar-benar menghargai waktu. “Waktu awal masuk kita ada kejadian nih tentang waktu, kita disuruh ngumpul pada jam yang sudah ditentukan dan Alhamdulillah kemarin sebagaian besar anak-anak UMY tepat waktu. Tapi sebagian lagi datangnya telat. Nah dari SP ngejudge kita itu telat. Soalnya kita itu satu group, dari Indonesia bukan UMY atau UPN. Kita di ingetin kalo besok kalian tidak boleh telat lagi, dan seterusnya kita ngak pernah telat lagi.” kata Syauqi dalam interview. “Disiplin dan taat hukum, contohnya tuh di public transportation dilarang makan dilarang minum ya meraka tidak makan dan tidak minum walaupun tinggal di sruput, ya udah ngak minum. Adalagi yang bagus buat di contoh. Mereka itu pasti akan selesaikan tugas sebelum deadline, misalnya ya ada tugas deadlinenya 3 hari lagi dari kampus. Sebelum tugasnya kelar mereka ngak mau nyantai. Tugasnya mereka itu bakal bener-bener dikerjain sampai selesai. Pantang tidur mereka sebelum semua kelar.” tambahnya.

Ada juga beberapa masukan yang berguna bagi UMY kedepan dalam hal kenyaman dan penerapan teknologi. “Selama kami di SP semua tempat itu hampir bisa dipakai tempat untuk belajar, diberikan fasilitas seperti tempat charger laptop meja dan kursi, akses wifi yang cepat, yang jelas disemua tempat fasilitasnya memungkinkan banget buat belajar. Kemudian perpustakaannya itu men, perpustakaannya dibuat fun buat mahasiswanya bener-bener dibikin nyaman, yang gilaknya ada sofa buat tidur-tiduran, hahaha” tutur zudin, syauqi sambil tertawa. “Sistem peminjaman dan pengembalian bukunya juga simple, peminjaman buku tinggal scanning RFID ID CARD punya kita dan buku yang pengen dipinjam udah bawa pulang deh, dan pengembalian buku juga seperti itu tinggal di scanning RFID ngak usah ngantri tinggal dimasukin ke box udah clear.” tambahnya.

“Trus parkiran, nah disana itu mereka gunain public transportation, ngak ada yang pake kendaraan motor atau mobil, sepeda pun jarang yang kebanyakan malah jalan kaki ke kampus. Karena parkir mahal banget, 1 jam aja 1 dollar sg. Nah waktu mereka untuk ngampus aja ada sampai 6 jam lebih malah. Dan mereka menganggap itu cukup mahal, makan 4 dollar aja mahal buat mahasiswa bisa dibayangin buat kita. Mungkin kalo disini (UMY) bisa diberi aturan dari rektorat buat batesin penggunaan sepeda motor maupun mobil, soalnya bukan cuman orang-orang yang overload kendaraan juga dan ngak bagus penataan buat lalu lintas kampus dan keamanannya. Aturan itu bisa diganti dengan mengharuskan penggunaan sepeda buat mahasiswa dengan fasilitas parkirnya atau fasilitas bis kampus buat jemputan. Kan bagus buat green kampus” tutupnya. (mac)

Bersambung di KKN Internasional Singapura 2013 – Bagian 2

[/vc_column_text]

Facebook Comments