Batik telah diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Pengakuan dari Badan dunia UNESCO ini harus ditindaklanjuti dengan cara menjaga dan melestarikan batik secara sungguh-sungguh. Salah satu upaya menjaga dan melestarikan batik adalah mengembangkan dan memperkuat industri batik nasional. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu propinsi penghasil batik terkenal baik skala nasional maupun internasional. Aspek historis dan geografis menjadi modal penting bagi industri batik Yogyakarta karena memiliki tradisi membatik yang telah berlangsung berabad-abad. Selain itu sebagai tujuan wisata terbesar kedua di Indonesia, Yogyakarta mendapatkan kemudahan dalam pemasaran produknya.

Dalam rangka memberikan kontribusi terhadap penguatan industri batik di Yogyakarta, maka tim Dosen Teknik Elektro FT UMY yang diketuai Dr. Ramadoni Syahputra melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skim Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) yang direncanakan berjalan selama tiga tahun (2017-2019). Program pengabdian ini disponsori oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.  Tujuan Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) ini adalah membantu UKM batik Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta meningkatkan kapasitas produksi dan manajemen usaha dalam rangka memperkuat industri batik nasional. Mitra industri batik dalam kegiatan PPPE ini adalah UKM Batik Sri Sulastri dan UKM Batik Tugiran. Permasalahan prioritas kedua UKM tersebut adalah kebutuhan tambahan pasokan energi listrik, proses produksi masih berbahan bakar minyak tanah dan gas yang relatif mahal dan sering langka, sistem manajemen masih manual berbasis kertas, belum tersedia sistem informasi produk, keterampilan SDM, dan limbah industri yang belum tertangani.

Target khusus kegiatan PPM PPPE ini adalah terjadi peningkatan kualitas dan jumlah produk batik masing-masing UKM sebesar 10% per tahun selama tiga tahun dan berdampak pada peningkatan cash-flow dan laba UKM sebesar 10% per tahun selama tiga tahun. Metode yang diterapkan untuk mencapai target tersebut adalah menyediakan pembangkit listrik energi terbarukan (solar home system) dan ramah lingkungan, adanya proses daur ulang lilin dan pewarna kain, tersedianya kompor batik listrik otomatis, sistem manajemen yang berbasis komputer, sistem informasi produk dan pemasaran berbasis web, penambahan SDM dan peningkatan keterampilannya, dan pengendalian limbah industri batik. Kegiatan-kegiatan tersebut akan diselesaikan secara bertahap setiap tahun selama tiga tahun dan khusus pengendalian limbah industri batik akan diselesaikan pada tahun ketiga. Limbah industri perlu diantisipasi sejak dini karena dapat berdampak serius, yaitu merusak ekosistem lingkungan sekitar dan kekhawatiran adanya resistensi warga sekitar industri batik yang dapat mengancam kelangsungan dan eksistensi UKM.

Kegiatan PPM IbPE ini diharapkan dapat memberikan hasil yang bermanfaat khususnya bagi UKM Batik Sri Sulastri dan UKM Batik Tugiran serta industri batik nasional pada umumnya. Kegiatan ini diharapkan memberikan kontribusi dalam rangka memperkuat industri lokal berbasis warisan budaya dalam persaingan pasar nasional dan internasional.

Facebook Comments